A.
PENGERTIAN DAN
KARAKTERISTIK TUNA GANDA
Departemen
Pendidikan Amerika Serikat memberikan pengertian anak-anak yang tergolong
tunaganda adalah anak-anak yang karena mempunyai masalah-masalah jasmani,
mental atau emosional yang sangat berat atau kombinasi dari beberapa masalah
tersebut, sehingga agar potensi mereka dapat berkembang secara maksimal
memerlukan pelayanan pendidikan sosial, psikology dan medis yang melebihi
pelayanan program pendidikan luar biasa secara umum. Sementara itu, beberapa
ahli pendidikan luar biasa menggunakan pendekatan perkembangan anak untuk
memberikan pengertian tentang anak tunaganda.
Seorang individu
yang berusia 21 tahun tetapi tingkat perkembangan fungsi-fungsinya hanya
setengah atau kurang dari tingkat perkembangan yang seharusnya dicapai
berdasarkan usia kronologis, dianggap sebagai anak yang mengalami tunaganda.
Walaupun, ada kelompok lain yang beranggapan bahwa pendekatan perkembangan
tersebut kurang relevan terhadap populasi ini. Sebagai penggantinya, mereka
memberikan penekanan bahwa seorang anak yang tergolong tunaganda adalah anak
yang memerlukan latihan dalam hal keterampilan-ketrampilan dasar, misalnya
dalam bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa bantuan, dalam
berkomunikasi dengan orang lain, dalam mengontrol fungsi-fungsi perut dan
kandungan kemih dan makan sendiri. Sebagian besar anak-anak reguler biasanya
dapat melakukan keterampilan-keterampilan dasar pada usia 5 tahun, sementara
itu anak-anak tunaganda perlu latihan-latihan khusus untuk dapat melakukannya.
Mereka ini tidak dapat diberikan pengajaran akademik seperti halnya anak-anak
regular pada umumnya.[1]
Oleh karena
beratnya dan banyaknya kelainan yang dimiliki oleh anak-anak tunaganda, maka
tidak ada perilaku-perilaku khusus yang berlaku umum bagi semua anak yang
tergolong tunaganda. Setiap anak mempunyai perbedaan dalam hal fisik,
intelektual dan ciri-ciri sosial, serta masing-masing hidup dalam lingkungannya
sendiri yang berbeda. Adapun
karakteristik yang sering tampak dari tuna ganda adalah sebagai
berikut:
1. Kurang
komunikasi atau sama sekali tidak dapat berkomunikasi. Hampir semua anak yang
tergolong tunaganda memiliki kemampuan yang sangat terbatas dalam mengekspresikan
atau mengerti orang lain. Banyak diantara mereka yang tidak dapat bicara atau
apabila ada komunikasi mereka tidak dapat memberikan respon. Ini menyebabkan
pelayanan pendidikan atau interaksi sosial menjadi sulit sekali. Anak-anak
semacam ini tidak dapat melakukan tugas walaupun tugas yang paling sederhana
sekalipun.
2. Perkembangan
motorik dan fisik yang terbelakang. Sebagian besar anak tunaganda mempunyai
keterbatasan dalam mobilitas fisik. Banyak yang tidak dapat berjalan, bahkan
untuk duduk dengan sendiri . Mereka berpenampilan lamban dalam meraih
benda-benda atau dalam mempertahankan kepalanya agar tetap tegak dan seringkali
mereka hanya berbaring di atas tempat tidur.
3. Mereka
seringkali mempunyai perilaku yang aneh dan tidak bertujuan, misalnya
menggosok-gosokkan jarinya ke wajah, melukai diri (misalnya membenturkan
kepala, mencabuti rambut dan sebagainya) dan karena seringnya, kejadian ini
sangat mengganggu pengajaran atau interaksi sosialnya.
4. Kurang
dalam ketrampilan menolong diri sendiri. Sering kali mereka tidak mampu
mengurus kebutuhan dasar mereka sendiri seperti makan, berpakaian, mengontrol
dalam hal buang air kecil, dan kebersihan diri sendiri. Ini memerlukan
latihan-latihan khusus dalam mempelajari keterampilan-keterampilan dasar ini.
5. Jarang
berperilaku dan berinteraksi yang sifatnya konstruktif. Secara umum, anak-anak
yang sehat dan anak-anak yang tergolong cacat senang akan bermain dengan
anak-anak yang lain, berinteraksi dengan orang dewasa, dan ada usaha mencari
informasi mengenai dunia sekitarnya. Namun demikian, anak-anak yang tergolong
tunaganda tampaknya sangat jauh dari dunia kenyataan dan tidak memperlihatkan emosi-emosi
manusia yang normal. Sangat sukar untuk menimbulkan perhatian pada anak-anak
yang tergolong tunaganda atau untuk menimbulkan respon-respon yang dapat
diobservasi.[2]
Di balik
keterbatasan-keterbatasan di atas, sebenarnya anak-anak tunaganda juga mempunyai
ciri-ciri positif yang cukup banyak, seperti kondisi yang ramah dan hangat,
keras hati, ketetapan hati, rasa humor, dan suka bergaul. Banyak guru yang
memperoleh kepuasan dalam memberikan pelayanan kepada anak-anak.
B.
KLASIFIKASI
Dari sekian
banyak kemungkinan kombinasi kelainan, ada beberapa kombinasi yang paling
sering muncul dibandingkan kombinasi kelainan-kelainan yang lainnya, yaitu:
1. Kelainan
Utama Adalah Tunagrahita antara lain:
a. Tunagrahita
dan cerbral palsy
Ada suatu
kecenderungan untuk mengasumsikan bahwa anak-anak cerbral palsy (CP) adalah
anak-anak tunagrahita. Apapun penyebabnya, baik karena genetik atau factor
lingkungan sehingga terjadi adanya kerusakan pada sistem saraf pusat dapat
menyebabkan rusaknya cerbral cortex sehingga menimbulkan tunagrahita.
Namun demikian,
hubungan tersebut tidak berlaku secara umum. Sebagai contoh, hasil-hasil
penelitian yang dilakukan Holdman dan Freedheim terhadap seribu kasus klinik
mediknya, hanya dijumpai 59% dari anak-anak CP yang dites adalah anak-anak
tunagrahita (Kirk dan Gallagher, 1988). Hopkins, Bice, dan Colton mendapatkan
bahwa 49 % dari 992 anak CP yang dites adalah anak tunagrahita. Sementara itu,
Stephen dan Hawks memperkirakan bahwa antara 40-60% dari anak CP adalah anak
tunagrahita.
Melakukan
diagnosis untuk menentukan apakah seorang anak adalah tunagrahita diantara
anak-anak CP dengan tes inteligensi yang baku adalah sangat sulit untuk
dipercaya. Seringkali kurangnya kemampuan dalam berbicara dan lemahnya kontrol
terhadap gerak-gerak spastik pada anak-anak CP memberikan kesan bahwa anak-anak
tersebut adalah anak-anak tunagrahita. Pada kenyataannya, sebenarnya hanya
sedikit terdapat hubungan langsung antara tingkat gangguan fisik dengan
inteligensi pada anak-anak CP.
Seorang anak
yang spastik berat mungkin secara intelektual dapat digolongkan sebagai gifted
dan anak lainnya yang mempunyai gangguan fisik ringan dapat digolongkan
tunagrahita yang berat. Assesmen mengenai ketunagrahitaan pada anak-anak CP
adalah benar-benar sulit dan seringkali akan memakan waktu berbulan-bulan untuk
melaksanakannya. Apabila setelah melalui pengajaran yang tepat beberapa waktu
lamanya seorang anak relatif tidak memperoleh kemajuan apa-apa, maka diagnosis
yang mengatakan bahwa anak tersebut mengalami tunagrahita adalah tepat.
b. Kombinasi
Tunagrahita dan Tunarungu
Anak-anak
tunarungu mengalami berbagai masalah dalam perkembangan bahasa dan komunikasi.
Sementara itu, anak-anak tunagrahita akan mengalami kelambanan dan
keterlambatan dalam belajar. Pada anak tunaganda, bias saja terjadi anak
tersebut mengalami tunagrahita yang sekaligus tunarungu. Anak-anak yang
demikian, mengalami gangguan
pendengaran,
memiliki fungsi intelektual di bawah rata-rata dan mengalami kesulitan dalam
penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Dengan demikian,
adanya kombinasi dari ketiga keadaan tersebut menyebabkan anak-anak tunaganda
memerlukan pelayanan yang lebih banyak daripada anak-anak yang mengalami
tunagrahita atau tunarungu saja. Diperkirakan bahwa antara 10%-15% anak di
sekolah tunagrahita adalah anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran dan
dalam persentase yang sama anak-anak di sekolah tunarungu adalah anak-anak
tunagrahita.
Kombinasi Tunagrahita dan Masalah-masalah Perilaku.
Kombinasi Tunagrahita dan Masalah-masalah Perilaku.
Telah diketahui
bahwa terdapat hubungan antara tunagrahita dengan gangguan emosional. Anak-anak
yang mengalami tunagrahita berat ada kemungkinan besar juga memiliki gangguan
emosional. Yang tidak diketahui adalah banyaknya anak secara pasti yang
menampakkan kedua kelainan tersebut bersama-sama. Ada gejala-gejala bahwa
tunagrahita yang cukup kuat dan nyata yang menyertai atau bersama-sama dengan
gangguan emosional cenderung untuk diabaikan atau dikesampingkan. Ini berarti
bahwa bagi anak-anak retardasi mental, mereka tidak disarankan untuk memperoleh
pelayanan psikoterapi ataupun terapi perilaku, padahal perilaku-perilaku yang
aneh pada anak adalah merupakan gejala tunagrahita berat atau yang sangat
berat.[3]
2.
Kelainan Utama Adalah
Gangguan Perilaku
a. Autisme
Autisme adalah
suatu istilah atau nama yang digunakan untuk menggambarkan perilaku yang aneh
atau ganjil dan kelambatan perkembangan sosial dan komunikasi yang berat.
Anak yang
mengalami autisme sulit melakukan kontak mata dengan orang lain sehingga
memberikan kesan tidak peduli terhadap orang di sekitarnya. Kelainan utama pada
anak autistik adalah dalam hal komunikasi verbal. Mereka sering mengulang
kata-kata (echolalia) dan melakukan perbuatan yang selalu sama, rutin dan dalam
pola yang tertentu dan teratur. Apabila kegiatannya tersebut mengalami hambatan
atau perubahan, maka mereka akan berperilaku aneh serta berteriak-teriak,
berjalan mondar-mandir sambil menendang atau membenturkan kepalanya ke tembok.
Kondisi ini juga sering terjadi apabila anak dalam keadaan tegang, senang atau
berada di tempat yang asing.
b. Kombinasi
Gangguan Perilaku dan Pendengaran
Memperkirakan
secara pasti tentang berapa jumlah anak yang mempunyai gangguan emosional
perilaku dan yang sekaligus gangguan pendengaran adalah hal yang sangat sulit.
Hal ini sangat bergantung pada kriteria yang digunakan untuk menentukan
seberapa besar gangguan emosional dan tingkat keparahan hilangnya pendengaran.
Althshuler memperkirakan bahwa antara satu sampai dengan tiga dari 10 anak
tunarungu anak anak yang memiliki masalah emosional.
Para ahli yang
konsisten memberikan pelayanan kepada anak-anak yang mempunyai gangguan
emosional dan yang sekaligus tuli, cenderung memakai klasifikasi kondisi
anak-anak itu sebagai kondisi yang ringan, sedang dan berat. Anak-anak yang
termasuk kondisi berat telah mereka pindahkan dari sekolah-sekolah untuk anak
tunarungu karena guru-guru mereka merasa`tidak mampu menangani perilakunya yang
aneh.
3. Kelainan
Utama Tunarungu dan Tunanetra
Apabila satu
dari dua lelainan utama itu yang menyebabkan anak mengalami gangguan, maka
dalam memberikan pelayanan pendidikan, indra yang masih baik kondisinya
memperoleh perhatian utama untuk difungsikan.
Bagi anak yang
tuli, maka saluran penglihatan digunakan untuk membentuk sistem komunikasi
berdasarkan isyarat, ejaan jari dan membaca bibir. Bagi anak yang mengalami
gangguan penglihatan (buta), maka program pendidikan dikompensasikan melalui
alat pendengaran. Akan tetapi apa yang dilakukan apabila kedua alat
(pendengaran dan pengilhatan) tersebut rusak? Bagaimana mengajarkan bahasa dan
bicara kepada anak yang tidak dapat mendengar dan melihat?Anak buta-tuli adalah
seorang anak yang memiliki gangguan penglihatan dan pendengaran, suatu gabungan
yang menyebabkan problema komunikasi dan problema perkembangan pendidikan
lainnya yang berat sehingga tidak dapat diberikan program pelayanan pendidikan
baik di sekolah yang melayani untuk anak-anak tuli maupun di sekolah yang
melayani untuk anak-anak buta. Namun demikian, bukan berarti anak buta-tuli
harus dirampas haknya untuk mendapatkan layan pendidikan. Dengan penangan yang
baik dan tepat, anak-anak buta-tuli masih bisa dididik dan berhasil. Contoh
orang semacam ini adalah Helen Keller. Atas bantuan Anne Sulivan sebagai
tutornya yang selalu mendampinginya dengan penuhketekunan, Keller belajar
bicara dan berkomunikasi serta memperoleh prestasi akademik yang tinggi.
Berdasarkan
uraian di atas,
dapat disimpulkan bahwa sebagian besar anak yang tergolong tunagandamemiliki
lebih dari satu ketidakmampuan. Walaupun dengan metode diagnosis yang p mengidentifikasikansifat
dan beratnya ketunagandaan yang dialami anak dan menentukan bagaimana kombinasi
ketidakmampuan itu berpengaruhterhadap perilaku anak. Misalnya, banyak anak
yang tergolong tunaganda tidak merespon terhadap rangsangan pada saat
diobservasi, seperti terhadap cahaya yang terang atau terhadap benda-bendayang
berat. Sulit ditentukan apakah anak tersebut mempunyai gangguan penglihatan
ataukah ia dapat melihat tetapi tidak mampu merespon karena adanya kerusakan
pada otak? Seringkali pertanyaan semacam ini timbul dalam merencanakan program
pendidikan bagi anak-anak yang tergolong tunaganda dalam semua tipe.
Cara apakah yang
paling sesuai untuk mengajar bahasa kepada anak tunarungu yang disertai cacat
berat lain atau bagaimanakah membantu anak yang tidak dapat berjalan dan tidak
dapat belajar menampilkan perilaku sosial untuk mengajarkan bagaimana
berpenampilan yang sesuai di depan umum adalah segudang problema yang menantang
untuk dicarikan solusinya.
Anak-anak yang
tergolong tunaganda seringkali memiliki kombinasi-kombinasi ketidakmampuan yang
tampak nyata maupun yang tidak begitu nyata dan keduanya memerlukan
penambahan-penambahan atau penyesuaian-penyesuaian khusus dalam pendidikan
mereka. Melalui program pengajaran yang sesuaiakan memungkinkan mereka dapat
melakukan kegiatan-kegiatan yang berguna, bermakna, dan memuaskan pribadinya.[4]
C.
FAKTOR
Tunaganda atau
cacat berat dapat disebabkan oleh kondisi yang sangat bervariasi dan yang
paling banyak adalah oleh sebab biologis yang dapat terjadi sebelum, selama atau sesudah
kelahiran. Pada sebagian besar kasus adalah karena kerusakan pada otak. Anak
yang tergolong tunaganda lahir dengan ketidaknormalan kromosom terjadi seperti
pada down syndrome atau lahir dengan kelainan genetik atau metabolik yang dapat
menyebabkan masalah-masalah berat dalam perkembangan fisik atau intelektual
anak, komplikasi-komplikasi pada masa anak dalam kandungan termasuk kelahiran
permatur, ketidakcocokan Rh dan infeksi yang diderita oleh ibu.
Seorang ibu yang
bergizi rendah pada saat mengandung atau terlalu banyak obat-obatan atau
alkohol dapat pula menyebabkan anak menderita cacat berat. Pada umumnya,
anak-anak yang tergolong tunaganda sering dapat diidentifikasikan pada saat
atau tidak lama setelah kelahiran.
Disamping itu, proses kelahiran itu
sendiri juga mengandung bahaya-bahaya tertentu dan terdapat
komplikasi-komplikasi. Cacat berat dapat disebabkan misalnya, bayi yang terserang
kekurangan oksigen dan luka pada otak dalam proses kelahiran, dalam
perkembangan hidupnya mengalami cacat berat karena pada kepalanya mengalami
kecelakaan kendaraan, jatuh, pukulan atau siksaan, pemberian nutrisi yang
salah, anak yang tidak dirawat dengan baik, keracunan atau karena penyakit
tertentu yang dapat berpengaruh terhadap otak (seperti meningitas dan
encephalitis ).
Namun demikian, walaupun secara medik
telah ratusan yang dapat diidentifikasi sebab-sebab kecacatan mereka, ada banyak hal atau
kasus yang tidak dapat ditentukan secara jelas sebab-sebabnya. Sedangkan yang
berkaitan dengan autisme secara khusus belum diketahui penyebabnya tetapi
dimungkinkan penyebabnya adalah majemuk ketidak normalan otak atau
ketidak seimbangan
biokemik yang dapat merusak persepsi dan pengertian. Adapun beberapa faktor
yang menyebabkan anak tuna ganda, antara lain:
1.
faktor prenatal :
Terjadi
sebelum kelahiran. dapat terjadi karena ketidaknormalan kromosom komplikasi
pada anak dalam kandungan, ketidak cocokan Rh, infeksi pada ibu ketika
hamil, serta mengkonsumsi obat obatan atau alkohol.
2. faktor natal :
Terjadi
pada saat kelahiran,
hal ini dapat
terjadi karena kelahiran premature, luka pada saat kelahiran, kekurangan
oksigen saat kelahiran, dan lain lain.
3. faktor post natal :
Terjadi
setelah kelahiran. contohnya : kecelakaan kendaraan, luka yang menyebabkan
gangguab otak, jatuh, mendapat pukulan dan siksaan.
4. nutrisi yang salah :
Anak
tidak mendapat perawatan yang baik, kekurangan gizi, keracunan makanan,
penyakit tertentu sehingga berpengaruh pada otak.[5]
D.
LAYANAN PENDIDIKANNYA
Pada
masa lalu,tunaganda secara rutin dipisahkan dari sekolah regular, bahkan sekolah Khusus. Namun
sejak tahun 80-an layanan pendidikan mendapat perhatian di tengah-tengah
masyarakat, dengan mendirikan sekolah-sekolah khusus.
Demikian
juga program-program pendidikan bagi anaktunaganda semakin dikembangkan untuk
anak usia sedini mungkin setidak-tidaknya
program pendidikan lebih diorientasikan untuk meninmgkatkan kemandirian anak untuk menjaga efekvitas program pendidikan maka program seharusnya mengakes empat bidang utama, yaitu bidang
domestik, rekreasional, kemasyarakatan,
dan vokasional.
Hasil
asesmen ini mungkinkan dapat membantu dalam merumuskan tujuan yang lebih
fungsional. Sementara itu dengan pengajaran seharusnya mencakup,di
antaranya: ekspresi pilihan, komunikasi, pengembangan keterampilan fungsional, dan latihan keterampilan sosial sesuai dengan usianya, menyadari akan kondisi obyektif anak-anak tunaganda, maka pendekatan multidipliner adalah penting. Oleh karena itu orang-orang yang sesuai dalam mengatasi anak
tunaganda, seperti terapis bicara dan bahasa terapisbicara dan bahasa terapi fisik dan okupasional seharusnya bekerjasama dengan
guru-guru kelas, guru-guru
khusus dan orangtua, karena perlajuan yang lebih cocok untuk mengatasi anak-anak tunaganda berkenaan
dengan masalah ketererampilan adalah memberikan layanan yang terbaik daripada
yang diberikan ditempat terapi yang terpisah. Untuk dapat menjamin kemandirian menjamin kemandirian anak
tunaganda dalam proses pembelajaran perlu didukung dengan penataan kelas yang
sesuai,alat bantu dalam meningkatan keterampilan fungsionalnya.
Integrasi
dengan anak seusia merupakan komponen lainnya yang
penting menghadirin sekolah regular dan berpartisipasi dalam kegiatan yang sama dengan anak-anak normal adalah penting untuk
pengembangkan keterampilan sosial dan persahabatan, di samping dapat mendorong adanya perubahan sikap yang lebih positif.[6]
E.
PREVALENSI
Oleh karena
belum ada definisi yang dapat diterima secara umum tentang tunaganda atau cacat
berat, maka tidak ada gambaran yang akurat dan seragam tentang prevalensi dari
kondisi tersebut. Di Amerika Serikat, diperkirakan antara 0,05 % sampai dengan
0,1% dari populasi usia sebaya. Berdasarkan asumsi bahwa anak tunaganda di
Indonesia prosentasenya sama dengan di Amerika Serikat, maka jumlah anak
tunaganda usia sekolah adalah sebanyak 30.000 s.d. 60.000 anak (asumsi jumlah
anak usia sekolah 60.000.000 anak).
bagi anak tunaganda semakin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar